Author Archive
Nama: Priska Febrina Yuanita
Alamat: Kebonarum, Ngawen, Klaten
TTL: Klaten, 13 Februari 1991
Hobi: suka baca buku biologi, dengerin cerita, merenung
Cita-cita: Dokter, apoteker, ahli gizi
Nama: Yohanna Fajar Trikristiani (Han-na)
Alamat: Gunungan Baru Blok C/IV, Barenglor, Klaten Utara
TTL: Klaten, 11 Juli 1992
Hobi: renang, baca novel
Cita-cita: accounting
Nama: Lisa Novita Sari
Alamat: Krosok, Ngrundul, Kebonarum, Klaten
TTL: Klaten, 30 Oktober 1991
Hobi: Menyanyi, nonton tipi
Cita-cita: punya EO
Berkati mereka ya, Tuhan. Amin.
9 Comments »
Ada tiga gadis remaja tiba-tiba datang kepadaku
Mereka memelukku erat dan dua di antaranya duduk di pangkuanku
(Heloooo? Who are you? Aku tidak kenal kalian?)
Mereka tertawa dengan gayanya masing-masing…tertawa dan terus tertawa
(Uhmmm…tampaknya mereka senang di pangkuanku. Tapi aku merasakan sebaliknya. Berat..!!! Ughhh…mereka mencuri keleluasaanku)
Mereka tersenyum manis dan mulai bernyanyi…do..re..mi (Ah…stop it!! Fals semua!! Tapi aku tak bisa menghentikan mereka. Mereka terus bernyanyi semakin lantang)
Lalu saat lelah, mereka tidur di pundakku (Oh My, semakin menambah bebanku saja)
Tiba-tiba, satu di antara mereka terbangun…
Menangis, menjerit-jerit…katanya kesakitan…
(Aku benar-benar bingung, apa-apaan ini? Siapa mereka yang aneh itu? siapa mereka yang seenaknya datang di kehidupanku dan merenovasi bangunan yang sudah kokoh itu?)
Mereka marah padaku…(ah, dasar tidak tahu terima kasih!!)
Tapi mereka tetap memelukku dan tidak ingin dilepaskan…
Hari-hariku kulalui dengan tiga gadis remaja itu…
Aku mulai terbiasa dengan tawa, canda, tangis, jeritan, dan sikap yang kadang kurang berterima kasih itu…
Ya, aku mulai terbiasa…
Aku senang ada suara-suara lain di hidupku selain "Bangun, Kerja, Pulang, Tidur"
Aku senang dengan keberadaan mereka…
Mereka mengajariku untuk tertawa, menangis, bercanda, bahkan marah dengan sejati…
Mereka mengajariku membuka topeng kemunafikan yang sering kupakai ketika menghadapi dunia…
Mereka seperti terang yang dikirim untuk membuka selumbarku…
Mereka memulaskan warna warni dalam kertasku yang masih perawan
Dan mereka berkata…"Ajari kami tentang ini itu ya, Mbak…"
(What? ajari untuk apa? Kalian yang lebih banyak mengajariku tentang kehidupan. Jangan pergi…hidupku untuk kalian, kalian adalah hidupku)
Dedicated to: my sisters in always saturday meeting
No Comments »
Pertama kami bertemu dan mulailah persahabatan itu…
Beberapa tahun kemudian muncul tanda-tanda aneh di dalam persahabatan itu…
Dan sampai sekarang…4 Agustus 2008 tanda-tanda itu semakin jelas menjawab segala pertanyaan dan keraguan kami…
Tanda-tanda itu di antaranya:
1. Kamu tidak bisa hidup tanpa dia
2. Kamu mau melakukan hal sulit bagi dia
3. Dalam setiap doamu, entah apa pun pokok doanya, kamu selalu menyebut namanya
4. Kamu memasukkan fotonya di dompet (walaupun di ceruk paling tersembunyi. Hehehe)
5. Kamu paling banyak menuliskan nama panggilannya di dalam Diarymu
6. Kamu hafal betul aroma parfum dan tau benar merk sabun mandinya, pasta giginya, bahkan sabun cucinya
7. Dalam kondisi paling buruk dalam diri kalian (jangan pernah terjadi), kamu bahkan menginginkan menjadi tuhan atas dirinya…(lawanlah kalau perasaan ini muncul)
8. Setangguh apa pun dirimu, kamu akan menjadi seolah lemah di hadapannya
9. Kamu mulai mengubah AMBISIMU menjadi AMBISI KAMI (senyawa ambisimu dan dia)
10. Kamu ingin menjadi ibu (atau ayah) bagi anak-anaknya…
Halooow….ada yang tahu apakah maksud dari tanda-tanda itu?
Tolong share ke kami ya…
1 Comment »
Satu bulan ini aku perhatikan isi kamar mandi kontrakan. Sebagai informasi, satu kontrakan ini dihuni 4 orang, cewek semua tentunya. Aku melakukan penelitian secara detil dari mulai bak mandi, gayung, closet, ya, semuanya bersih, teratur, sempurna. Jika saja ibuku melihat, dia pasti akan sangat bangga dan menganugerahkan gelar baru padaku (gelar lama: si Ceroboh).
Lalu, mataku beralih secara spontan pada ke empat boks mandi (tempat sabun, dll). Yang pertama berwarna biru muda, terletak di ujung selatan bak. Ukurannya cukup untuk menampung 10 botol shampoo. Tapi tentu saja isinya bukan 10 botol shampoo (suka berlebihan deh!!). Boks biru muda itu berisi bermacam-macam bahan perawatan tubuh wanita: shampo (dengan merk terkenal), conditioner (dengan merk yang sama), serum perawat rambut (merk nya agak berbeda. Hmmm, pertimbangannya mungkin karena merk yang satu tidak memiliki variasi yang lengkap. Karena merasa sangat membutuhkan pelengkap itu, merk lain pun tidak mengapa), sabun tubuh dalam satu botol besar, odol, sebuah sikat gigi, sabun pembersih daerah kewanitaan, dan sabun muka. Dalam kotak lain, merah jambu, yang terletak di ujung utara bak mandi, terdapat shampoo, dua botol sabun cair ukuran sedang, sikat gigi usang, conditioner yang tampaknya beberapa waktu yang lalu sang empunya sedikit kewalahan memelotot isinya yang hampir habis, body scrub (ada 2, yang satu tampaknya tidak memuaskan sehingga harus memakai merk lain), serta shower puff. Hmmmm….
Aku masih betah di kamar mandi, aku tetap ingin meneruskan observasi ilegal ini.
Di sudut atas dinding aku perhatikan sebuah kotak dengan isi yang paling komplit dan (kutaksir) paling mahal di antara semuanya. Rak mandi biru tua, ya, rak itu bersisi, satu botol besar shampoo mahal, satu botol conditioner berukuran sama dengan merk yang sama pula, satu botol collonge, pasta gigi, sikat gigi, body scrub dengan merk terkenal dan berskala internasional, sabun mandi (tidak diketahui merknya), milk and honey untuk perawatan tubuh, serta shower puff. Tergantung di belakang pintu, juga ada beberapa perlengkapan lain yang masih, namun mungkin tidak dipakai, beberapa shower puff lama, dan 3 buah penutup kepala (dua di antaranya sudah aus).
Dan sebelum mengakhiri observasi hari itu, aku berkonsentrasi pada boks yang terakhir. Kupikir dia sering tersingkir. Saat diletakkan di depan boks pertama, dia disingkirkan ke belakang; saat di letakkan di samping boks ke dua, dia sering tersenggol dan jatuh. Aha, jika dia hidup, mungkin bisa disebut pengganggu!!!
Boks itu berwarna biru tua, ukurannya paling kecil di antara semuanya (1/2 kali semua boks yang ada). Isinya? em…aku perlu lebih banyak waktu untuk memperhatikan boks itu dari pada boks-boks lainnya. Bukan karena terlalu banyak isinya, sebaliknya, kucari dan kucari, apa yang menarik dari isi boks mandi satu ini, tapi tak juga kutemukan. Tak sebanding dengan tiga boks lainnya. Di dalamnya ada satu sikat gigi murahan, 1 pasta gigi (bekas dipelotot dengan paksa), 1 sabun padat, dan satu sabun muka murahan. Kupandangi lagi sekelilingnya…dia tampak terkucil di antara kemewahan yang ada. Sikat, pasta, sabun, sabun muka. Cukup…
Menurut Anda, mengapa pemiliknya tidak melengkapi isi boks mandinya? Padahal, secara logis, dia akan terpengaruh karena setiap hari, sewaktu mandi, dia akan melihat 3 boks mewah lainnya. Ada beberapa kemungkinan: pemilik ini kolot, tidak punya uang, pelit, atau memang sederhana.
Tak terasa, observasi ini telah berlangsung selama beberapa bulan, dan aku tetap melihat data dan fakta yang sama (padahal tiap tanggal muda, pemilik selalu mengganti isi boks dengan yang baru). Aku masih heran, kenapa tidak terpikir oleh pemilik boks sederhana itu untuk melengkapi koleksi perlengkapan mandinya. Apakah dia bisa terima jika boks nya terus-menerus menjadi yang dikucilkan, dianggap terlalu remeh, dan tidak pantas berada di sana, di antara kemewahan itu.
Ah, aku tak habis pikir. Kesenjangan yang aneh…
Ah, aku tak habis pikir. Kenapa aku harus melakukan observasi aneh ini…
Lalu, tadi pagi ada seseorang yang membisikkan sebuah rahasia mengenai observasi itu kepadaku. Dia mengatakan, "Mereka memakai segala perlengkapan kecantikan itu untuk mempercantik diri mereka; tetapi pemilik boks mandi sederhana itu harusnya bersyukur, karena tanpa perlengkapan kecantikan yang mewah pun, dia tetap menjadi yang tercantik".
Setelah itu aku menghentikan observasiku dan bersyukur, karena memiliki boks sederhana itu…
1 Comment »
"Dibutuhkan seorang sales …"
"Dicari intepreter bahasa…"
"Jika Anda lulusan….Segera kirim lamaran Anda…"
Beberapa bulan setelah kelulusanku, tampaknya kalimat-kalimat itu sangat akrab. Bahkan kerap kali mereka mampir di mimpi-mimpiku. Menurut buku "A Piece of Mind" -nya Sandy Mc Gregor, ketika menjelang tidur, ada suatu keadaan yang dinamakan ‘Alfa", nah, jika kita memikirkan sesuatu dengan begitu serius pada waktu ini, sesuatu itu sangat berpotensi untuk menjadi tema cerita di alam mimpi kita nanti.
Ah, apakah aku sebegitu seriusnya memikirkan pekerjaan? aku mencoba mengkamuflasekan hipotesis itu dengan argumen bahwa aku bukan memikirkan "kok belum dapat kerja", tapi "kasihan orang tuaku harus membiayai aku terus". Do they sound like a same?
Kuhabiskan berjam-jam di closet untuk memikirkan apa yang sebenarnya aku pikirkan sehingga mereka bisa mengganggu tidurku (Hello, i am like a mummy in my sleeping age).
Atau aku sedang memikirkan "Tuhan, aku harus melakukan apa sekarang?"
Pertanyaan ini menguat ketika aku ingat…
Cita-citaku ingin menjadi dosen di UGM. Aku belajar giat dan Tuhan menuntunku pada keberhasilan yang indah. Namun, beberapa hari setelah kelulusan yang gemilang itu, aku baru sadar bahwa pintu pendaftaran sebagai dosen UGM telah ditutup. What the?
Sedih jika mengingat hal itu…Tapi aku senang ketika mengingat "Janji Tuhan tidak pernah Dia batalkan". Aku bertanya dan terus mencari "Apa yang harus aku lakukan?"
Jawabannya: Lakukan apa pun yang bisa kau lakukan.
ya, aku setuju. Aku mulai menjadi Job seeker mania. Kubaca koran, kulihat papan pengumuman di kampus-kampus, mengunjungi internet, join di job milis, dll. Dengan modal hampir sombong "masakan dengan prestasiku aku tidak bisa dapat satu pekerjaan juga?", aku mengirimkan 20 lamaran dalam 1 bulan (now i realize, it seems like a wasting many kinds of energy i have).
Kutunggu selama 2 bulan…i work, sleep, and eat on my mobile phone…i really a phone call waiter zombie.
Tak ada panggilan…
Aku melakukan konsultasi gratis kepada beberapa pakar pengangguran dan mereka bilang "wajar, waktu 2 bulan itu wajar".
Konsultasi itu terus berlangsung sampai 3 bulan dengan jawaban yang hampir sama "wajar…"
Tapi bagiku ada yang tidak wajar, ada yang tidak beres…ada sesuatu yang salah. I won’t walk in their shoes. Menganggur 3 bulan tidak sesuai dengan janji yang pernah aku dapatkan dahulu.
are there 2 possibility:
1. Janji itu salah
2. Ada sesuatu yang salah padaku
Poin pertama sama sekali tidak logis (please consider it as my fault, please forgive me). Berulang kali dalam waktu teduh ku, ada diingatkan "janjinNya tidak pernah diingkari; janjiNya tidak akan terlambat…".
Jadi, hipotesisnya adalah "Ada sesuatu yang salah denganku". Whoiii…anybody there…can u all help me? im on the edge of my thinking!
Lamaaaa sekali aku merenungkannya, aku bertanya dan terus mencari. Ternyata Saudara-Saudara (Hmmmm….), ada yang salah dengan cara pandangku. What? Is that about someone perspective?. Someone perspective, ya…tapi karena aku tinggal pada pokok anggur itu, perspektifku hendaknya sama dengan perspektifNya.
Kesalahanku adalah "aku menggunakan kacamataku sendiri untuk melakukan, mengkritik, menghakimi, dan menghukum keadaanku". That was my big fault.
Perspektifku : aku lulusan dengan predikat gemilang, menempuh waktu studi dengan sangat cepat, berprestasi, skillfull, multitalented. aku seharusnya, semestinya, selayaknya mendapat pekerjaan yang full of prestisge, serius, berada, dan cepat (not need to wait till 3 month…urggghhhh…)
Perspektif Kami (aku dan Dia): Ingatlah pada tujuan hidupmu. Kerjakan apa pun dengan rendah hati dan setia seperti untuk Dia dan bukan untuk manusia. Jangan pandang pada berkat-berkatNya, pandang DiriNya. Apa yang Dia berikan indah pada waktuNya. Berjalanlah bersama Dia dan tanggalkan kekuatanmu sendiri. Maka pedang roh, bajuzirah, ketopong kedamaian, kasut kerelaan, dan semua perlengkapan itu akan dipakaikan padamu…dan kamu akan menjadi pekerjaNya.
Oh My Lord….I really sorry for not trust in Your promises.
Setelah itu, aku benar-benar menanggalkan perspektifku dan berjalan bersama Dia, sesuai rencanaNya.
Tidak lama setelah Dia memberiku hikmat itu, Dia menambahkan dengan hal-hal yang ajaib. Pertama, aku mendapat panggilan kerja dari international school; kedua aku diterima kerja International Company; ketiga lamaranku di UGM diterima dengan mulus (Horaiiiii). Aku berdoa dan mengikuti keputusanNya untuk memilih UGM sebagai tempat berkarir walaupun secara pendapatan mungkin sangat jauuuuhhhh dibandingkan dua lainnya (ingat tentang tujuan hidup!). Beberapa hari bekerja, aku mendapat panggilan dari perusahaan minyak besar di Indonesia (aku dengar gaji 1 bulan di sana 14 juta). Astaga, aku sempat terkecoh…aku sempat berpikir untuk menerima panggilan itu…dan meninggalkan UGM…aku sempat khilaf (hehehe) dan berpikir "sayang sekali kalau dilepaskan".
Tapi tidak, aku memandang Dia, dan aku ingin setia. Aku tinggalkan panggilan itu dan sama sekali tidak ingin menoleh padanya. Aku hanya ingin memandang ke depan, kepada tujuan yang sudah Dia tentukan buat hidupku. Aku tau itu sulit, bahkan mustahil, tapi aku percaya. Aku tetap di sini…dan aku ingin setia…karena Kau terlebih dahulu setia…
No Comments »
Beberapa hari yang lalu aku mengalami sakit pusing-pusing, demam, dan beberapa famous illness lainnya. Mereka datang bersamaan, mengingatkanku pada tugas-tugas kuliah dulu (dulu aku menganggapnya seperti penyakit panu, kudis, dan kurap yang datang bersamaan, gatal dan mengganggu). Ah, aku paling sebal kalau sedang sakit. Aku kepayahan melakukan pekerjaanku; lebih sering memayahkan orang lain juga.
Kuputuskan saja untuk tinggal di kontrakan, ijin 1 hari dengan konsekuensi tidak akan ada makanan (tidak seperti kalau di rumah), obat, dan camilan. Hanya bisa berharap ada sukarelawan yang datang dan membawakan obat dan nasi untukku. Tapi sampai siang tak jua muncul my superhero candidate. Wuah…terpaksa aku harus mengeluarkan jurus utama: menelpon maknyak.
Jurus yang sangat manjur kupikir. Beberapa jam kemudian maknyak datang dengan membawa obat, sekotak nasi dan seplastik tongseng mercon…ada satu lagi yang gak kelihatan tapi sangat kuat influencenya yaitu kerupuk omelan. Hahaha…makanan yang satu ini dikategorikan kerupuk karena memang sangat renyah…kriuuuk…kriuuuukkk, dan tak berhenti-berhenti.
Berdasarkan analisa beliau (maknyak), ada beberapa sebab aku sakit (dimulai dari yang paling kecil potensinya):
1. Terlalu sering kelamaan di depan komputer
Hmmm, i work with computer 8 hours a day, make sense.
2. Minus nya bertambah
Iya, dua bulan yang lalu kuperiksakan, nambah 2 poin. Ya….selamat, Anda mendapatkan dua poin tambahan.
3. Tidak mau menggunakan kaca mata
Aduuh, gak pake kacamata aja, kemana-mana aku dipanggil Bu. Kalau pakai kacamata?
4. Jarang mandi
heheeeee….mandi bisa dikategorikan pemborosan: pemborosan sabun, odol, air, waktu….save our energy please!
Dan setelah kucoba menarik kesimpulan, ternyata sebab ke empat yang paling logis (jorok pangkal sering sakit!).
Setelah makan tongseng mercon dengan kerupuk omelan, akhirnya aku mandi juga (sudah hampir 2 hari tidak menyentuh air; dan dengan PD kukatakan, "tidak ada yang tahu").
Betul betul manjur…tongseng mercon, omelan, dan mandi membawaku pada kesembuhan…
Di atas kertas putih itu aku berjanji, tidak akan lagi makan tongseng mercon, memancing omelan seperti kemarin, dan ….jarang mandi lagi (masih dalam pertimbangan).
Paginya aku bisa berangkat kerja dengan penuh euforia. Horaiiiii….aku bebas dari sakit…sejak subuh aku sudah sangat bersemangat dan mengerjakan segalanya lebih cepat dari pada sebelumnya.
Sesampainya di UGM, mungkin wajahku terlalu ceria, sehingga orang-orang yang kujumpai menatapku dengan bangga dan senyum lebar…tapi lama-lama lebih mirip tawa…dan…ah, perasaanku mulai tak enak, ada apa dengan mereka?
Kuputuskan untuk tetap PD sebelum akhirnya kePDan itu runtuh saat 2 orang menegorku, "maaf mbak, celananya kok belum diresleting? aduh, maaf lho mbak!".
UUUhhhhh….tongseng mercon, omelan, dan mandi…aku memilih kalian ketimbang harus menanggung malu ini!!!
No Comments »
Pasti perih berada di sebuah jembatan penantian.
Kau tahu benar, kau akan sampai di sana (dengan segala bekal dan usaha yang telah kau kerjakan)
Tapi kau tidak tahu, kapan waktu itu diberikan bagimu
Pasti sakit,
Saat mendengar kerabatmu telah membawa keluarganya terbang dengan sayap-sayap mereka…menuju seberang
Apalagi melihat kekasihmu (kau juga yang khusuk mendoakan) telah sampai di seberang jembatan (dia tidak akan pernah meninggalkanmu, lihat…dia mengirimkan sesuatu untukmu)
Cinta,
jangan khawatir…sebelum ini, aku pernah ada di posisimu…bukan satu kali, tapi berulang kali…
Jangan khawatir tentang waktu…dia bukan milik kita
Apa yang kau lakukan sudah tepat…teruslah berusaha dan berdoa…
Tambahkan dengan kesetiaan dan gunakan kacamata tidak mencari keuntungan diri sendiri
Cerita itu…yang pernah kualami…pasti akan terulang padamu…
Karena demikianlah kita….
No Comments »
Belum titik, mungkin belum berakhir kalimatnya.
Belum titik, nampaknya juga pertanda Sang Penyair masih ingin membagi imaji…atau…laranya
Belum titik, karena mungkin malas…bingung…tidak tahu apa selanjutnya
Belum titik, karena kisahnya belum berakhir
Belum titik, karena belum lengkap
Belum titik, masih menunggu perintah selanjutnya
Belum titik, bisa jadi masih koma
Sekarang…senyaman apa pun posisi mu…
Ingatlah…waktu ini: BELUM TITIK
No Comments »
Ini tentang mencari sahabat,
Mungkin di antara kita ada yang pernah merasakan, sulit banget untuk mendapatkan sahabat sejati. Yang seperti apa? ya yang mengerti keinginan kita, jujur, tidak pernah “main belakang”, ada di saat kita membutuhkannya, dan lain-lain. Pokoknya yang sempurna.
Bahkan ada yang bilang, sahabat itu lebih dari kekasih.
Ya, sahabat memang menempati posisi spesial di hati kita karenanya untuk mendapatkan sahabat pun butuh perjuangan ekstra.
Sulit memang, tapi bukan mustahil….
Semua yang kau ingini dari sahabatmu lakukan harus dimulai dari diri kita sendiri
Memperhatikan mereka, mengerti mereka, ada di saat mereka butuh (walaupun mereka datang memang hanya pada saat membutuhkan kita), dan menghargai keputusan mereka, tidak selalu menaruh prasangka, dll…..
Ehm, coba yukkkkkk…….
4 Comments »
LAGI SEDIH……?
PENGEN NANGIS
TAK ADA BAHU
YANG ADA CAPE…..
No Comments »
|