Ada

kubangan yang penuh Lumpur,

Dari sana makhluk
itu datang dan kau dekap

Mentarimu
mewarnai kelam kulitnya

Dan melukis
senyum pada awan hitamnya dengan tinta kasih

Kau ikut kotor,
kena lumpur bukan lagi percikan

Tapi tampak
bersinar karena cinta yang menyela dari ceruk hati

Ada lagi datang
dari debu,

Hinggap di
hidung, tangan dan jemarimu…

Gatal pun jadi,
kau mengelusnya pelan bersama kesetiaan

Mengalir air iba
dari rahim bidadari

Dan sumur tua
menyeruak berbual-bual meneriak riak-riak syukurnya

Dari bawah, ada
yang meraba naik sampai ke lutut,

Gigitan perih
bersisa darah kering, engkau sentuh dan tiup atas bayu

Lalu terbang
selaksa bebannya, bersama terima kasih tak berhenti

Mereka kau kecap
bersama masa

Kotor, gatal dan
perih kau terima sebagai hadiah masa

Kau tetap penuh
cinta

Dalam sulaman
waktu yang memaksamu bertumbuh dewasa, bukan tua

Dan sampai
mentari mati, kau tetap cahaya bagi mereka

Engkau, cahaya bagi mereka

2 Responses to “Cintamu, Dara”
  1. Hai Non.. Produktif sekali dirimu! Dalam sehari bisa nulis beberapa kali.. Apa kabar? Sori gak bales sms. Waktu kemaren aku gak ada sinyal dan pulsa sekaligus..:) karena itu terima salam Selamat Natal dan Tahun Baru dariku sekarang yah… Kapan kita bisa chat lagi…?

  2. wah wah emang yang satu ini hanya patut untuk dipuji. you’re the best….

Leave a Reply